Industri Hilir Kakao Diharapkan Terbangun Tahun 2015

February 14, 2014 by  
Filed under Perkebunan

SANGATTA, vivaborneo.com, - Potensi tanaman kakao yang begitu tinggi dan tersebar di beberapa kabupaten/kota di Kaltim diharapkan dapat diolah menjadi kakao olahan berupa tepung cokelat pada tahun 2015. Potensi sentra penanaman kakao di Kaltim antara lain terdapat di Kabupaten Nunukan yang berada di Kecamatan Lumbis dan Pulau Sebatik. Selain itu kakao juga dikembangkan di  Kabupaten Malinau,Kabupaten Berau  yang berlokasi di Kecamatan Talisayan), dan di Kabupaten Kutai Timur  yang terletak di Kecamatan Teluk Pandan, Karangan, Sandaran dan Kecamatan Busang.

Buah Kakao Masak Pohon dari Kaltim

Tidak hanya di kabupaten, ternyata di ibukota provinsi Kaltim di  Samarinda  juga pengembangannya mulai menampakkan produksi yang meningkat terutama di Desa Sempaja dan Berambai.

“Luas areal pertanaman kakao menurut statistik tahun 2012 mencapai 30.712 hektar dengan produksi biji kakao kering sebanyak 23.562 ton,” ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kaltim, Hj. Halda Arsyad, Rabu (12/2).

Menurutnya, pengembangan industry hilir tanaman kakao menjadi cokelat kemasan akan dapat terwujud asalkan SKPD terkait di lingkungan
Pemprov Kaltim dan pemerintah kabupaten/kota mampu melakukan koordinasi terintegrasi dan sinkronisasi dengan baik.

“Saya yakin petani akan mampu menghasilkan tepung bubuk coklat yang berkualitas. Tetapi sebelumnya perlu disiapkan kelembagaan yang kuat oleh para petani. Misalnya dengan membentuk kelompok tani dan koperasi petani. Sehingga para petani mempunyai kekuatan dalam posisi tawar di pasaran,” kata Halda.

Menurut dia, Balitbangda Kaltim siap memberikan pembinaan terhadap para petani kakao untuk memanfaatkan teknologi tepat guna.
Selain itu, untuk menyukseskan produksi coklat di daerah, perlu  pemahaman  penggunaan alat teknologi tepat guna tentang pengolahan
coklat juga perlu dilakukan. Sehingga petani kakao mampu memproduksi coklat yang berkualitas dan bernilai jual tinggi.

Sementara itu, Sekretaris Kepala Dinas Perkebunan Kutim Hormansyah mengatakan potensi kakao daerah ini cukup besar yakni 400 hingga 600 ton perbulan. Selanjutnya, kakao  dijual kepada para tengkulak untuk memasok kebutuhan coklat di Surabaya dan Sulawesi Selatan.

“Dengan adanya pengembangan alat teknologi tepat guna ini, kami berharap penghasilan petani kakao di Kutim akan meningkat dengan produksi kakao dalam bentuk tepung bubuk coklat, bukan dalam bentuk biji. Nilai jualnya pasti lebih tinggi,” jelasnya. (vb/yul/jay-hms)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.