Indonesia Harus Tingkatkan Ekspor dan Kurangi Impor Pangan

March 2, 2014 by  
Filed under Artikel

vivaborneo.com, Pemerintah Republik Indonesia telah mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi kesenjangan defisit perdagangan luar negeri dengan meningkatkan ekspor dan mengurangi ketergantungan impor baik bahan pangan maupun Bahan Bakar Minyak (BBM).
Hal ini dikatakan Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Radjasa dalam sambutannya pada Pembukaan Agri dan Agro Festival di Taman Mini Indonesia Indah beberapa waktu lalu.“Tingginya impor pangan dan energi Indonesia mengakibatkan defisit perdagangan Indonesia semakin melebar dan pada gilirannya defisit pada current account kita,” ujar Hatta.

Pemerintah terus mencari cara untuk mengatasi deficit meningkatkan ekspor dan mengurangi impor. Dalam situasi dunia yang masih dalam kondisi dunia yang masih mengalami krisis, penanganan ekonomi ini bukanlah hal yang mudah tetapi memerlukan langkah yang struktural jangka pendek maupun jangka panjang.

Dijelaskan Hatta, peningkatan konsusmsi pangan dan BBM di Indonesia naik 10 persen setiap tahun. Namun konsumsi ini tidak dibarengi dengan meningkatnya domestik supplay yang mengakibatkan meningkatnya impor.

Sejumlah kebijakan telah diambil pemerintah, seperti pergantian BBM bio diesel sebesar 10 persen (hal yang sama juga telah dilakukan oleh Brazil). JIka berhasil, paling tidak pada 2014 Indonesia dapat mengurangi defisit anggaran sebesar 3 miliar dollar, hanya dari sisi BBM bio diesel aja.

“Saat ini Indonesia masih defisit pangan dengan Thailand dan Vietnam. Ini tidak bisa kita biarkan dan kita harus bertekad untuk memenuhi kebutuhan pangan kita dalam negeri secepatnya,” tegasnya.

Indonesia, ujarnya bertekad melakukan kemandirian pangan dan swasembada pangan dengan langkah nyata dan langkah konkrit oleh Pemerintah Indonesia. Namun ditengah upaya kita tersebut, Indoensia juga menghadapi tiga fenomena yaitu semakin terintegrasinya ekonomi secara global.

Kedua adalah fenomena ekonomi semakin dalam dipengaruhi oleh inovasi, teknologi dan ilmu pengetahun serta fenomena redubbling liberalisasi perdagangan. Negara di dunia yang semakin global, maka isu lingkungan dan ekosistem sangat tinggi dihembuskan. Dan konsep sustainable production and development sangat diperlukan.Tekanan untuk meningkatkan green economi sangat penting dan merupakan keharusan dalam produksi pangan untuk ekspor.

Dijelaskannya, pada 2015 Indonesia akan menjadi dan terikat dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Kawasan Indonesia akan menjadi single market dan kawasan yang disebut production base atau basis produksi.

“Oleh karena itu kata kunci untuk persaingan tersebut adalah daya saing. Kita harus menjadi pemenang. Kita tidak ingin Indonesia sebagai negara besar hanya menjadi basis pasar bagi negara-negara lain. Kita tidak ingin,” ujarnya.

Hatta optimistis, potensi pangan Indonesia mampu bersaing di tingkat dunia. Data FAO mengatakan, Indonesia nomor satu untuk kepala sawit, vanilla dan kelapa. Sedangkan karet nomor dua menuju nomor satu. Kita ketiga cacao, lada, singkong, beras, jahe, nanas, kapuk dan lain-lain. Belum lagi mineral-mineral yang lain.

Untuk komoditas  cabai, paprika, ubi jalar, kopi, jenis umbi-umbian, jambu biji, mangga dan nanas. Kita ke lima untuk produk bayam, kacang mete dan terong.

“Data FAO (Food Agriculture Organization). Oleh sebab itu berdasarkan data ini dan masih banyaknya potensi-potensi lain yang memerlukan intervensi inovasi, teknologi dan ilmu pengetahuan. Maka bukan tidak mungkin kita bisa memenuhi tidak hanya kebutuhan dalam negeri tetapi juga kebutuhan luar negeri. Kita yakin itu,” ujarnya optimistis.(vb/yul)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.