Kopi Luwak Indoenesia tak Langgar Hak-hak Hewan

June 22, 2014 by  
Filed under Headline

 

vivaborneo.com, Sebuah organisasi pecinta hewan, People for the Ethical Treatment of Animals (PETA)  pada akhir tahun 2013 menentang produksi  kopi Luwak Indonesia karena dianggap melanggar hak-hak binatang.

Menurut PETA, hewan Luwak (Paradoxurus hermaphroditus) yang dipelihara oleh petani  sering dipaksa memakan biji kopi untuk menghasilkan kopi luwak bercitarasa tinggi, terkurung dalam kandang yang sempit hingga tidak dapat bersosialisasi dengan luwak lainnya melalui perkawinan.

Luwak yang banyak ditemukan di Asia terutama di Indonesia, Malaysia, dan  Filipina memang memiliki kebiasaan menyantap biji kopi petani dengan mengambil biji matang sempurna. Kelebihan luwak dalam memilih biji kopi inilah yang dapat menghasilkan biji kopi bercitarasa enak. Selain itu, selama di dalam pencernaan luwak, biji kopi tidak hancur sehingga dapat dikeluarkan dengan sempurna melalui kotoran.

Proses fermentasi di dalam perut luwak inilah yang turut menyumbangkan rasa kopi yang lain dari proses olahan oleh manusia. Saat ini, dikenal beberapa proses pengolahan seperti penjemuran langsung biji kopi dengan kulit cherry (natural), dikupas, dicuci dan difermentasi (full wash), semi full wash, lain-lain.

Menurut pendiri dan pemilik PT. Sinar Mayang Lestari, Slamet Prayoga, hewan luwak di alam dan di penangkaran hanya menghasilkan kotoran yang mengandung biji kopi seberat 150 gram saja.

“Makanan pokok luwak bukan hanya biji kopi. Biji kopi yang matang sempurna kulitnya manis, hanya kulit luar saja yang dimakan oleh luwak. Sedangkan makanan pokok luwak adalah buah-buahan, daging ayam, ikan dan lainnya. Biji kopi hanya sebagai selingan saja,” jelasnya.

PT Sinar Mayang Lestari yang memiliki 100 ekor luwak dalam kandang budidaya di daerah Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung, selalu memperlakukan luwak sesuai dengan habitat lainnya. Pakan berikan tiga kali sehari dengan menu buah, daging, dan madu. Sedangkan pohon-pohon kopi berada di dalam kandang yang sangat luas.

Disini luwak-luwak beranak pinak dan dapat bersosialisasi dengan lainnya. Bahkan tidak jarang luwak hamil dan melahirkan anak luwak baru yang lucu dan sehat-sehat.

“Jadi tidak semua benar luwak di penangkaran diperlakukan dengan tidak baik. Jika petani memperlakukan luwak dengan baik, maka hasil kopi yang dihasilkan juga akan banyak dan bermutu,” ujarnya.

Sulitnya menghasilkan kopi luwak menjadikan harga kopi luwak di pasaran sangat mahal. Untuk satu cangkir kopi luwak yang disajikan oleh Malabar Maountin Café Bogor dihargai Rp55.000. Harga ini masih dibawah harga café-café lain karena kopi luwak di MM Café dihasilkan oleh Sinar Mayang Lestari yang merupakan induk usahanya.

Makanya, ujar Slamet Prayoga, sangat aneh dan perlu dipertanyakan jika ada kopi luwak  yang dijual sangat murah. Apalagi memakai merk atau brand, Kopi Luwak padahal isinya bukan kopi luwak.

Dijelaskannya, untuk menghasilkan kopi luwak memang harus melalui penangkaran atau budidaya. Karena tidak mungkin mengandalkan hasil dari luwak yang ada di alam.

Mungkin tuduhan  organisasi pecinta hewan, People for the Ethical Treatment of Animals (PETA)  dapat dibantah dengan analogikan seperti peternak yang memiliki sapi perah untuk menghasilkan susu. Bagaimana mungkin jika dapat menghasilkan susu yang bagus jika sapinya tidak dipelihara dengan baik dan benar.

Jadi tuduhan PETA memang tidak beralasan. Bahkan Pemerintah RI menilai hal tersebut adalah strategi jitu untuk memboikot kopi Luwak Indonesia yang terkenal sangat enak rasanya.(vb/yul)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.