Si Raja Buah yang Beraroma Menyengat

September 1, 2014 by  
Filed under Artikel

vivaborneo.com, Siapa yang tidak mengenal Si Raja Buah Bermahkota Duri yang memiliki bau menyengat ini? Di seluruh dunia ada 300 jenis durian yang telah dikenali. Namun yang sudah dibudidayakan  hanya mencapai puluhan saja. Dari sekian banyak yang telah dibudidayakan manusia, dipastikan baru sebanyak enam  spesies yang dapat dimakan oleh manusia.

Durian yang dalam bahasa ilmiah durian yang sering kita temui di tepi-tepi jalan, pasar tradisional hingga pasar modern ini disebut Durio zibethinus Murr.  Ini mengacu pada penemu durian yaitu Mr. Murray. Sedangkan kata durio berarti kulit buah yang memiliki duri dan kata zibethinus mengacu pada bau yang menyengat layaknya bau musang (zibethinus).

Diantara enam spesies durian yang dapat dimakan oleh manusia, penyebarannya di alam bebas berada di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sedangkan wilayah negara lain yaitu Malaysia, Singapura, dan Brunei Darusallam. Negara-negara inilah dipercaya para ahli botani tempat asal durian.

Dari negara serumpun yang disebut kawasan Malesia inilah durian menyebar ke Thailand, Myanmar, India dan Pakistan yang memiliki iklim sama. Penyebaran ini dilakukan oleh manusia secara tidak sengaja karena pola kehidupan yang berpindah di jaman dahulu.

Enam spesies durian yang tumbuh liar di Sumatera dan Kalimantan, dikenali sebagai  Durio zibethinus (durian biasa), Durio kutejensis (durian lai) yang berwarna jingga, Durio axleyanus (durian keratongan), Durio graveolens (durian tabelak), Durio dulcis (durian lahong/merah) dan Durio grandiflorus (durian munyit).

Dari enam spesies ini, baru Durio zibethinus dan Durio kutejensis yang sudah dibudidayakan. Uniknya, kata kutejensis menrujuk pada kata “Kutai” yang merupakan salah satu suku di Kalimantan Timur.

Memang durian lai yang berwarna jingga ini dapat tumbuh subur di tanah-tanah di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, khususnya di Kecamatan Loa Janan  yang menghasilkan durian lai terbaik di Kaltim.

Sedangkan Durio axleyanus (durian keratongan), Durio graveolens (durian tabelak), dapat tumbuh subur di hutan-hutan tropis Sumatera, Kalimantan dan sejumlah hutan di Malaysia.

Lucunya lagi, bagi masyarakat Kalimantan Selatan, kata lahong/lahung yang disematkan pada Durio dulcis (durian lahong/merah), sering dikonotasikan untuk disematkan kepada “para pelacur”. Artinya, orang-orang di Kalsel untuk  menyebut seorang pelacur, mereka menyebutnya sebagai “lahung/lahong”!

Sementara itu, Durio dulcis (durian lahong/merah) ini di pasar-pasar tradisional Malaysia tidak laku dijual karena warnanya yang merah cenderung menyerupai darah. Orang-orang Malaysia merasa ngeri jika menyantap durian merah ini, apalagi durian ini hanya tumbuh di hutan-hutan tropis dan di tengah belantara.(vb/yul)

 

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.