Memanfaatkan Kotoran Hewan menjadi Energi Terbarukan

June 19, 2016 by  
Filed under Headline, Inovasi

VIVABORNEO.COM, Api biru yang dihasilkan untuk menyalakan kompor gas dua tungku di dapur sebuah rumah, tidak bedanya seperti api biru yang dihasilkan oleh gas elpiji yang dijual dipasaran. Tak dinyana, api biru tersebut berasal dari proses pengolahan kotoran sapi melalui teknologi instalasi biogas.

Asnawi Hatta (baju batik) menunjukkan instalasi biogas bantuan Total E&P Indonesie yang memanfaatkan kotoran hewan menjadi gas yang dapat menggantikan peran gas elpiji

Dalam kunjungan press tour Pelatihan Menulis dalam rangka 40 tahun Terminal Senipah yang digagas oleh Total E&P Indonesie pada Kamis (2/6/2016), di sekitar instalasi biogas tidak tercium bau menyengat dari kotoran sapi. Padahal, setiap pagi, Ahmad Solihin selalu menuangkan satu gerobak besar kotoran sapi segar ke salah satu lubang instalasi biogas ini.

Lokasi instalasi biogas yang berada di Kecamatan Teluk Pemedas, Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur,  memang terlihat sederhana. Kubah beton penutup instalasi terlihat kokoh terpasang.

Bantuan Total E&P Indonesie bagi Kelompok Ternak Sejahtera Jaya ini merupakan salah satu pilot project perusahaan melalui CSR (Coorporate Social Responsibility). Sebelumnya, ditempat yang berbeda, Total juga telah memberikan teknologi serupa untuk Kelompok Tani Sindang Jaya Kelurahan Muara Jawa Tengah, Kecamatan Muara Jawa.

Walaupun satu unit instalasi biogas ini bernilai sekitar Rp.50 juta, namun teknologi yang digunakan tergolong sederhana. Kotoran sapi segar yang dihasilkan dari lima hingga enam ekor sapi “dipanen” setiap pagi. Kotoran segar ini dicampur air dan dijadikan “bubur” agar mudah masuk ke dalam tangki beton. Di dalam tangki inilah proses penguapan gas metana dihasilkan. Gas yang lebih ringan dari udara ini mengalir ke pipa-pipa yang terhubung langsung dengan kompor gas di dapur. Uniknya lagi, ampas kotoran yang telah habis gasnya akan otomatis mengalir keluar seiring dengan masuknya kotoran baru.

Pemanfaatan teknologi biogas dari kotoran hewan hewan ini memang belum terasa maksimal karena rumah yang teraliri gas dari kotoran sapi ini baru pada tiga buah rumah di  tiga Kepala Keluarga saja.

Ahmad Solihin memperlihatkan api biru dari kompornya yang dihasilkan dari gas metana kotoran hewan

Sekretaris Kelompok Ternak Sejahtera Jaya, Ahmad Solihin (47 th) dan kelurga telah merasakan manfaat penggunaan biogas dari kotoran hewan ini untuk keperluan memasak di dapur.

Selain dapat menghemat pengeluaran keluarga dalam membeli elpiji, gas kotoran hewan ini dirasa aman karena tekanan gas yang tidak sebesar tekanan gas dari tabung.

“Untuk pengeluaran, gas dari kotoran hewan ini dapat mengurangi pengeluaran sebesar 30 persen biaya dapur. Selain aman, api hasil masakan tidak mengubah rasa makanan yang diolah,” jelas Solihin.

Sementara itu, Ketua Kelompok Ternak Sejahtera Jaya, Asnawi Hatta (57 th) menjelaskan kelompok ternaknya berjumlah 18 orang anggota dan kini telah memiliki 150 ekor sapi yang kandangnya terpisah-pisah lokasinya.

Ditemui di kandang sapi miliknya pada Senin (13/6), Asnawi menjelaskan usaha peternakan sapi (cow farming) ini awalnya dibantu oleh Total E&P Indonesie sebanyak 6 ekor sapi pada tahun 2012.

Bantuan terus mengalir diantaranya dari Pemkab Kutai Kartanegara sebanyak 10 ekor dan bantuan dari Dinas Peternakan Provinsi Kaltim sebanyak 50 ekor di tahun 2015.

Keuntungan dalam pembudidayaan sapi  pedaging ini membawa berkah tersendiri bagi anggota kelompoknya. Biasanya, menjelang hari raya kurban, setiap anggota rata-rata mampu menjual 3-4 ekor sapi dewasa dengan harga terendah Rp.10 Juta per ekornya.

Jika seorang anggota sedikitnya menjual tiga ekor sapi saja setiap Idul Adha, berarti pendapatan yang diperoleh adalah Rp.30 Juta per tahun atau Rp.2.500.000 per bulannya. Padahal, sapi-sapi ini minim perawatan dan pakan karena setiap hari rombongan sapi digembalakan di alam bebas.

Dirinya berencana, bekal pengetahuan yang didapat dalam pengelolaan biogas ini dapat ditingkatkan lagi agar dapat mengalirkan gas ke rumah-rumah warga lainnya.

Selain itu, kandang anggotanya yang terpisah-pisah sesuai lahan yang dimiliki, diharapkan memilki instalasi biogas serupa agar dapat memanfaatkan limbah sapi yang terbuang menjadi lebih bernilai ekonomis.

Asnawi memimpikan, gas-gas yang dihasilkan dari kotoran hewan ini dapat dinikmati warga secara luas dengan cara menjual gas yang dihasilkan dengan harga yang bersaing dengan harga gas elpiji pemerintah.

“Kami akan terus belajar dan akan berkonsultasi dengan Total E&P Indonesie bagaimana caranya memperluas jaringan pipa ke rumah-rumah warga dengan kapasitas instalasi biogas yang ada,” ucapnya.

Hanya memerlukan kotoran dari enam ekor sapi untuk menghasilkan gas elpiji terbarukan setiap harinya.

Biaya pembuatan instalasi bio gas yang cukup mahal menjadikan alasan untuk pengembangan energi ramah lingkungan ini. Dirinya sangat mengharapkan bantuan lain baik dari perusahaan ataupun dari kabupaten ataupun Dinas Peternakan Provinsi Kaltim.

Selain menggembalakan sapi dan pembuatan instalasi biogas, kelompok ternak ini berencana memanfaatkan kotoran sapi yang ada sebagai media tanam organik bagi tanaman sayuran dan tanaman hias.

“Memang belum kita coba, namun prospek pembuatan pupuk organik dan media tanam dari campuran kotoan hewan ini nampaknya menjanjikan karena minat masyarakat bertani dan berkebun cukup tinggi,” ujarnya.

Untuk itu Asnawi mengharapkan adanya pelatihan untuk membuat pupuk organik maupun pembuatan media tanam organik, yang sesuai dengan standar pertanian dan keamanan pangan.

Menilik suksesnya program cow farming ini hendaknya dapat menjadi pemantik bagi kelompok masyarakat lainnya di area kerja Total E&P Indonesie dalam memanfaatkan sesuatu yang terbuang menjadi energi terbarukan yang bermanfaat bagi warga.

Bagaimanapun juga, kemandirian ekonomi masyarakat harus dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri. Pemerintah dan perusahaan swasta hanya menyediakan kail dan pancingnya saja, sedangkan masyarakatlah yang mencari ikannya.(yuliawan andrianto – vivaborneo.com)

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.