Pengrajin Ikan Asin Harapkan Bantuan Modal dan Penjemuran

January 29, 2017 by  
Filed under Artikel

VIVABORNEO.COM, Pengrajin ikan asin di Kecamatan Penajam Kabupaten Penajam Paser Utara harapkan bantuan pemerintah daerah untuk permodalan dan  pemasaran.

Bdariah sedang mengatur ikan asin yang terlah kering jemur. Dirinya membutuhkan bantuan modal dan penjemuran untuk bisa merambah kota-kota lain di Indonesia.(dokvb)

Harapan ini disampaikan oleh Badariah (60th)  salah seorang pengrajin  ikan asin skala menengah yang selalu membeli ikan segar dari nelayan yang baru pulang dari melaut.

Letak Kecamatan Penajam memang berada di pesisir pantai yang berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi. panjang garis pantai di kabupaten penajam saja lebih dari 30 Km.

Terdapat puluhan pengrajin ikan asin atau ikan kering di kecamatan penajam ini. namun, yang skala kecil dan sedang masih sedikit.

“Usaha ikan asin ini susah-susah mudah. jikatidak tekun maka ikan yang dihasilkan tidak memenuhi standar penjualan di pasar, misalnya warna tidak terang, kurang kering dalam penjemuran hingga rusak saat proses penggaraman,” ucapnya.

Menurut Badariah saat ini pemasaran ikan asin asal Kecamatan Penajam ini dikirim hingga lintas provinsi yaitu ke Kota Banjar Baru,  Banjarmasin,  Kabupaten Alabiu,  Kalimantan Selatan.

Selain itu ikan asin juga dipasarkan ke berbagai kota di Kaltim seperti ke Balikpapan, Samarinda,  Tenggarong dan Muara Badak di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Dalam menjalankan usahanya, dirinya dibantu 10 orang pekerja, mulai dari pembersihan ikan, penggaraman, penjemuran hingga persiapan kirim barang ke daerah lain.

Ikan-ikan yang diproduksi antara lain ikan teri dengan tiga jenis ukuran, ikan tembang, layang, kembung  dan bete-bete, selain itu untuk ikan ukuran besar ada ikan talang, tongkol, kerapu dan lainnya.

Badariah mengharapkan bantuan permodalan karena jika ikan asin sedang banjir di pasaran,  maka harga akan anjlok. begitupun masalah penjemuran. jika cuaca kerap hujan dan sinar matahari tidak mencukupi, maka kemungkinan ikan busuk dan dapat berubah warna.

“Tidak tahu ini bagaimana masalah penjemuran. karena belum pernah mencoba pengeringan menggunakan alat, apakah sama kualitasnya dengan sinar matahari,” ujar Badariah.

Menurutnya, bagi pengrajin ikan asin dengan modal besar, jika harga anjlok masih bisa menahan barangnya untuk dijual saat harga kembali membaik.

Namun berbeda dengan pengrajin kecil dan sedang seperti dirinya,  yang harus menjual ikannya walaupun harganya murah dan keuntungannya sedikit.

“Kalau kita masih mampu tahan (tidak menjual) kita tahan dulu, tapi kalau perlu perputaran uang, yah terpaksa dijual juga walaupun untungnya tipis,” ucap Badariah.

Badariah berharap ada mitra kerja yang dapat membantu pemasaran usaha yang dimilikinya hingga menembus pulau Jawa dan lainnya. Menurutnya, konsumsi ikan asin di Indonesia masih tinggi dan seluruh penduduk Indonesia sangat akrab dengan rasa ikan asin khas Indonesia ini.(vb/yul)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.