Konservasi Ikan Semah dengan Sistem Tagang di Serawak

March 22, 2017 by  
Filed under Agrobisnis

Sungai terpanjang di Malaysia terletak di Sarawak. Sungai Rajang dengan panjang 560 km, yang berasal dari pegunungan Iran dan mengalir ke Laut Cina Selatan melalui delta Sibu dan Sarikei. Mata air dari Sungai Rajang berasal dari sumber yang sama dari sungai terpanjang kedua di negara bagian, yakni Sungai Baram, dan Sungai Kayan di Indonesia-Kalimantan.

Di Sarawak, hulu sungai yang besar tersebut terletak di kawasan Heart of Borneo (HoB). Ini merupakan sumber kehidupan di Borneo – sungai-sungai tersebut menyediakan berbagai macam keanekaragaman, misalnya sumber daya alam, kolam dan habitat bagi flora dan fauna, yang berguna bagi perikanan dan terutama pembangunan ekonomi bagi bendungan PLTA.

Sebagian besar masyarakat yang tinggal di kawasan HoB bergantung pada sungai untuk kegiatan sehari-hari mereka, termasuk makanan, sarana transportasi, irigasi untuk lahan pertanian dan air untuk keperluan minum dan mencuci.

Untuk mencapai keseimbangan antara pembangunan dan konservasi, berbagai upaya sedang dilakukan oleh pemerintah,  dan pihak lain melalui program-program yang bertujuan untuk kelestarian lingkungan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal di HoB.

Sistem Tagang di Sungai Tengoa

Tagang (dalam bahasa Iban berarti ‘terbatas’) didasarkan pada sistem konservasi ikan yang diadopsi secara luas di Sabah, negara tetangga Sarawak. Ini adalah sebuah sistem di mana penduduk desa bekerja sama sebagai sebuah komite untuk membatasi dan mengendalikan jumlah kegiatan penangkapan ikan di sepanjang sungai yang telah ditentukan untuk tujuan Tagang.

Sekarang ini ada 23 desa di Sarawak yang telah mengadopsi sistem Tagang sebagai bagian dari konservasi sungai serta keamanan ekonomi dan mata pencaharian.

Long Lidong adalah desa kecil  di Lun Bawang yang dihuni 110 orang, sekitar satu jam perjalanan dari kota Lawas di timur laut mencapai perbatasan HoB. Raut Kading tokoh masyarakat setempat memimpin inisiatif konservasi ikan.

Setiap hari, ia berjalan ke Sungai Tengoa yang mengalir ke desanya untuk memberi makan ikan. Dia akan memanggil ikan dari tepi sungai dengan meniup sebuah kaleng kosong pada sebuah batu besar.

Ikan-ikan akan berenang ke arahnya, menunggu untuk diberi makan. Dia menempatkan telapak penuh pakan ikan kering dan berjalan ke dalam air. Ikan mengerubunginya untuk mengambil makan.

Ikan-ikan tersebut begitu jinak hingga ia dapat dengan mudah menangkap mereka. Sebuah surat kabar lokal menyebutnya Pemanggil Ikan dari Long Lidong. Baginya, konservasi merupakan investasi bagi desanya tanpa harus membahayakan alam desa yang dicintainya.

Pada tahun 2006, masyarakat desa, di bawah bimbingan dan dukungan dari Inland Divisi Perikanan Departemen Pertanian, Sarawak, mengatur sistem tagang. Jenis ikan yang ada di Sungai Tengoa adalah jenis ikan semah yang sangat dihormati  (Tor tambra). Spesies ini khusus dipilih untuk kemitraan agar sesuai dengan lingkungan sungai.

Jaman dulu terdapat banyak ikan semah di sungai. Namun karena permintaan pasar yang tinggi, akhirnya menyebabkan populasi ikan semah menjadi sangat berkurang. Harga ikan air tawar ini melambung tinggi hingga RM60 per kilogram.

Di bawah sistem tagang Panjang Lidong, terdapat bentangan 2,4 km dari Sungai Tengoa yang dibagi menjadi empat zona. Pemanenan atau kegiatan memancing di sepanjang daerah ini harus diizinkan oleh panitia yang diketuai oleh Raut.

Ini adalah cara untuk mempertahankan pasokan protein di sungai dan mempertahankan pendapatan ekonomi. Inisiatif desa dalam melaksanakan sistem tagang telah memberikan kontribusi terhadap perlindungan ekosistem alami sungai karena ikan semah sangat membutuhkan air bersih yang mengalir untuk bertahan hidup.

Long Lidong dikelilingi oleh hutan yang indah dan alami. Desa ini memiliki potensi untuk menjadi tempat ekowisata bagi para pecinta alam dan burung karena daerah tersebut dekat dengan Paya Maga, sebuah dataran tinggi pegunungan yang indah di hulu Sungai Trusan, di mana endemik Borneo Oriole (juga dikenal sebagai Black Oriole) dapat ditemukan.

Para penduduk desa di Long Lidong berharap sistem tagang dapat menjadi bagian dari daya tarik alam yang unik yang akan terus memperjuangkan kepentingan lokal dan internasional selama bertahun-tahun ke depan. – © WWF-Malaysia/Alicia Ng – Sungai dan Masyarakat di HoB _ WWF Indonesia.htm

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.