Ketika Perkebunan Pisang Ancam Posisi Kelapa Sawit

December 8, 2013 by  
Filed under Artikel

Booming perkebunan Kelapa Sawit yang melanda Indonesia tidak dapat dipungkiri dapat mengangkat pendapatan masyarakat melalui penjualan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit kepada perusahaan penampung untuk diolah menjadi minyak kelapa sawit (Crude Palm Oli/CPO).

Di Kalimantan saja saat ini diperkirakan perkebunan kelapa sawit perusahaan swasta dan kebun masyarakat telah mencapai 5,5 juta hektar yang terdiri dari Provinsi Kalbar sebanyak 2 juta hektar, Kalsel 500 ribu hektar, Kalteng  2 juta hektar dan Kaltim 1 juta hektar. Angka ini akan terus bertambah setiap tahunnya seiring dengan pembukaan kebun-kebun baru. Bahkan dari perkebunan kelapa sawit di Kalimantan saja, Indonesia  telah  menggeser posisi Malaysia sebagai
pengekspor CPO  di dunia.

Namun, kelemahannya, harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa  sawit harganya berfluktuatif, kadang tinggi kadang rendah. Harga ini tidak ditentukan oleh petani melainkan oleh perusahaan dan sejumlah komponennya. Ini sangat rentan terhadap permainan harga yang akhirnya dapat merugikan petani.

Jadi pertanyaannya adalah, apa yang mengancam perkebunan sawit saat ini? Jawabannya ternyata sederhana, yaitu budidaya tanaman pisang, terutama pisang kapok.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman paangan dan Hortikultura, H. Ibrahim mengatakan ancaman ini  telah dibuktikan oleh  petani pisang kapok di Kecamatan Kaliorang dan sekitarnya di Kabupaten Kutai Timur, yang memang telah ditetapkan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Kaltim sebagai Sentra Pengembangan Pisang selain di Kecamatan Sebatik
Kabupaten Nunukan.

Betapa tidak, sejauh mata memandang, di beberapa desa di Kecamatan Kaliorang yang terlihat hanya pohon pisang. Petani kembali bergairah menanam pisang  setelah serangan hama layu  fusarium tahun 1999 karena harga pisang yang cukup tinggi, yaitu dihargai sebesar Rp. 3.800-Rp4.000 per sisir. Padahal, pada tahun 2008 harga satu sisir pisang
hanya dihargai Rp.1.000.

“Produksi beberapa desa di Kecamatan Kaliorang ini saja, kini telah mencapai 1.800 sisir per hari atau sama dengan Rp7,2 juta dengan harga Rp4 ribu/ sisir. Pisang-pisang ini diangkut menggunakan mobil yang datang dari Samarinda, Bontang, Balikpapan, bahkan dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan,” jelasnya.

Belum lagi beberapa hasil olahan pisang ini juga mampu mengangkat harga pisang lebih tinggi lagi. Kreatifitas kaum perempuan desa telah mengubah pohon buah tropis ini menjadi berbagai penganan. Pisang dapat diolah menjadi tepung pisang, bubur bayi, kripik pisang, kripik bonggol, cake pisang, dan berbagai aneka penganan yang bernilai lebih
ekonomis.
Untuk satu hektar tanaman pisang, petani hanya memerlukan biaya untuk bibit sebesar Rp1,2 juta yaitu satu hektar diisi dengan 400 pohon pisang dengan harga bibit Rp3 ribu/pohon. Bandingkan dengan kelapa sawit dengan 400 bibit dengan harga Rp35 fibu – Rp50 ribu per pohonnya.

“Pisang sudah dapat dipanen dalam usia delapan bulan dan berbuah sepanjang tahun dengan rumpun ideal sebanyak 3 hingga 4 anakan. Sementara kelapa sawit baru dapat dipanen dalam usia 4 hingga 5 tahun,” ujarnya.

Seorang petani bernama Bolong mengakui, menanam pisang lebih menguntungkan daripada menanam kelapa sawit. Pengalamannya membuktikan,  satu hektar kelapa sawit yang dimilikinya hanya mampu menghasilkan Rp2,7 juta per hektar per bulannya. Sedangkan kebun pisang dengan jumlah yang sama mampu menghasilkan Rp5 juta per hektar per bulannya.

“Cukup saya saja yang memiliki pengalaman menanam kelapa sawit ini, jangan sampai teman-teman petani lainnya menanam kelapa sawit sementara hasil kebun pisang lebih menjanjikan,” ucapnya. (yuliawan/vivaborneo.com)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.