Berkebun Jadi Hobi Sambilan Warga Indonesia di USA

December 25, 2017 by  
Filed under Inovasi

KabariNews – Semua orang tentu rela menghabiskan banyak uang, waktu dan tenaga untuk hobi mereka. Berkebun bisa menjadi hobi yang menyenangkan, kegiatan ini tak hanya menjadikan lingkungan lebih asri tapi juga mendatangkan banyak manfaat.

Berkebun dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah, jadi tantangan tersendiri. Seperti cerita para diaspora Indonesia yang tinggal di beberapa negara bagian di Amerika Serikat.

Karena  sukanya dengan tanaman, apalagi yang bisa dimanfaatkan seperti sayuran dan buah, mereka punya pengalaman masing-masing bagaimana mengatasi iklim dan kondisi tanah yang cukup berbeda dengan di Indonesia.

Seperti diketahui, Amerika memiliki empat musim dimana begitu banyak tantangan untuk menentukan kapan masa tanam dan jenis apa yang bisa tumbuh subur di setiap tempat.

Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (United State Depertement of Argiculture/USDA), Amerika terbagi menjadi 11 zona yang berbeda, di setiap zona bersuhu 10 derajat farenheit (12 derajat celcius) pada rata-rata suhu terendah di musim dingin.

Dengan memahami zona dimana berada, maka akan lebih mudah memilih jenis tanaman dan kapan waktu yang tepat untuk mulai menanam berdasarkan dengan kondisi tanah dan iklim wilayah yang ditinggali.

Diaspora Indonesia tersebar diberbagai negara bagian Amerika. Iklim, kondisi tanah dan suhu bukan alasan untuk tidak melakukan hobi. Justru energi mereka tersalur untuk kegiatan positif, karena bagi mereka berkebun sangatlah menguntungkan terlebih ketika bisa menikmati hasil jerih payah sendiri. Yuk intip apa saja tanaman diaspora dan apa saja tantangan yang dihadapi.

Hobi berkebun muncul kapan saja dan dimana saja, seperti dituturkan Yvonne Brilhart. Semasa masih tinggal di Indonesia, ia mengaku tidak penah sama sekali berkebun. Namun saat hijrah ke Amerika dan tinggal di negara bagian Pennsylvania, dia mulai jatuh cinta dengan tanaman.

Cerita lainnya datang dari negara bagian New Mexico. Di daerah gurun beriklim panas dan kering, Susan Flores mengatasi tantangan-tantangan yang ada dengan menanam sayuran-sayuran seperti, pare, oyong, cabe, labu, pok choy, okra, dan lain-lain.

Untuk mensiasati tanah yang kurang subur, Susan menanam sayur mayur dalam pot. Hasil kebunnya digunakan untuk keperluan sehari-hari, bahkan katanya hasil panen cukup untuk persediaan selama musim dingin.

Bercocok tanam di negara bagian Florida yang beriklim tropis ternyata juga ada tantangannya. Menurut Muryani Baum dan Ira Prawirowinoto, kondisi tanah yang cenderung pasir dan suhu udara panas lebih cocok ditanami buah-buahan daripada sayuran.

Untuk wilayah Florida cocok ditanami buah tropis seperti sirsak, leci, kelengkeng dan pepaya. Beda halnya dengan diaspora Indonesia Yenni Beuker dan Lala Tambunan yang tinggal di negara bagian Michigan. Menurut Lala dan Yenni, negara di bagian utara yang memiliki tingkat kedinginan agak tinggi itu lebih cocok ditanami sayur-sayuran.

Berkebun bukan sekedar hobi menyenangkan, yang bagi sebagian orang dilakukan untuk mengisi waktu luang dan menghilangkan penat. Hobi berkebun sangat positif, dimana dapat membuat kita lebih bersyukur melihat keindahan alam dan merasakan langsung kedekatan dengan lingkungan.

Apalagi bisa mengikuti langsung proses pertumbuhan mulai dari bibit hingga berbunga, berbuah dan panen tentunya ada kepuasan tersendiri. Karena itu berbagai tantangan yang dihadapi bukanlah masalah besar. Mereka justru semakin terpacu dan tertantang menaklukkan medan dan menciptakan halaman asri hasil jerih payah sendiri. Saat panen, hasilnya bisa menikmatinya bersama keluarga, kerabat dan sahabat. **(laporan Diaspora Indonesia – Enny Elisson - http://kabarinews.com/cerita-diaspora-tantangan-dan-kepuasan-berkebun-di-as/86974)

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.