Telur Asin Pindang dengan Omzet Puluhan Juta

December 8, 2013 by  
Filed under Profil

Berawal dari warung kecil ke warung kecil telur asin berwarna biru kehijauan tersebut dijual oleh Sri Mulyani pada tahun 1997-1998. Saat itu Indonesia sedang terkena imbas krisis ekonomi dunia. Sri yang hijrah ke Kaltim bersama suami terus berpikir bagaimana meningkatkan produksi telur asinnya. Apalagi dalam benaknya Kota Balikpapan belum memiliki makanan khas yang dapat menjadi buah tangan bagi orang yang datang.

Bermodalkan Rp.200 ribu, tahun 2000 dirinya memberanikan diri untuk berinovasi mengembangkan rasa telur asin biasa menjadi beberapa varian telur asin yang memiliki nilai jual lebih mahal daripada telur asin biasa.

Terpikirlah untuk membuat telur asin pindang dengan beberapa rasa. Proses pembuataannya walau terlihat sederhana namun memerlukan waktu yang lebih lama dalam proses pemasakannya.

Jika telur asin biasa dimasak dalam waktu dua jam saja, maka telur asin pindang milik Sri Mulyani  ini diolah selama hampir dua hari!

Kini varian rasa yang telah dimiliki oleh Telur Asin “Jaya Rasa” Balikpapan ini adalah telur asin pindang rasa bawang, rasa asap, rasa rempah, rasa pedas, nugget telur asin  dan telur asin biasa yang masih tetap dia jual.

Telur asin yang telah “naik pangkat” ini dijual seharga Rp.4.000 per butirnya. Ini jauh diatas harga bahan baku telur asin yang Sri beli seharga Rp.1.900 per butirnya.

Dengan merk “Telur Asin Pindang  Jaya Rasa”, wanita kelahiran Solo 1 Januari 1966 ini kini memiliki hak paten, sertifikat halal, dan sertifikat standar pangan nasional.

Atas usahanya ini, Sri Mulyani juga mendapat “ganjaran” sebagai Perintis Inovator  UMKM terbaik tahun 2013 versi Kaltim Award Pemerintah Provinsi Kaltim.

Apalagi sebelumnya Sri juga pernah mendapatkan Penghargaan ‘Citra Produk Berdaya Saing” dari Kementerian Pertanian Ri di Jakarta.

Kini, dengan  usaha yang tekun dan inovasi yang tiada henti menghantarkan Sri sebagai salah satu pengusaha wanita yang sukses menggeluti usaha kecil, walaupun hanya sekelas mengolah telur asin.

“Kini omzet penjualan saya sudah menembus 300-400 butir per hari. Padahal waktu merintis usaha ini hanya mampu memproduksi 500 butir per bulan,” ujarnya mengenang.

Kini Sri berencana mengembangkan usahanya ke Pulau Jawa khususnya Jakarta, karena setiap mengadakan pameran, telur asin pindangnya selalu ludes sebelum acara berakhir.

“Saya kira harga empat ribu per butir bagi orang Jakarta masih murah. Kini saya sedang merancang pengemasan dan pengirimannya,” ujarnya optimistis.(vb/yul)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.