Kaltim Susun Program Pangan Tanpa Kaltara

December 26, 2013 by  
Filed under Headline

SAMARINDA -  vivaborneo.com, Terbentuknya Kalimantan Utara (Kaltara) cukup mempengeruhi penyediaan beras dan pencapaian target swasembada. Kaltim yang kini hanya terdiri dari tujuh kabupaten dan tiga kota, dalam perencanaan 2014 tidak lagi memasukkan kabupaten dan kota yang termasuk dalam Provinsi Kaltara untuk program pangan.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kaltim, H. Ibrahim, Selasa (24/12) menyatakan pihaknya telah menginventaris dan menyusun kembali program penyediaan pangan  dan pencapaian target untuk swasembada beras.

“Dengan terbentuknya Kaltara maka kita akan menyusun kembali program-program selanjutnya tanpa memasukkan kabupaten dan kota yang selama ini juga menyumbangkan produksi pangan, terutama padi,” ujarnya.

Menurutnya, walaupun selama ini di Kaltim produksi terbesar tanaman pangan berasal dari Kabupaten Kutai Kartanegara, disusul oleh Kabupaten Penajam Peser Utara dan Paser, tetapi produksi pangan dari Kalimantan Uatar juga cukup besar.

Hitungan kita sekarang Kaltim telah mampu menyediakan kebutuhan beras hampir 83 persen. Dalam tahun 2014 bisa ditingkatkan menjadi 90-95 persen. Namun, setelah berpisah antara Kaltim dan Kaltara, maka posisi penyediaan beras di Kaltim turun menjadi 71 persen.

Langkah yang harus dilakukan, ujar Ibrahim  adalah cetak sawah di beberapa kabupaten di Kaltim yaitu di Kutai Timur, Kutai Barat dan Desa Sembakung Jaya Penajam Paser Utara (PPU)  yang saat ini hanya ditanami satu kali setahun akan diusahakan menjadi dua kali setahun atau lebih.

“Oleh karena itu kita akan bekerja lebih keras lagi, tidak saja pemerintah tetapi juga peran aktif dari petani agar kecukupan beras di Kaltim ini dapat tercapai,” ujarnya.(vb/yul)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.